Baby Next Door


Sekarang sudah memasuki hari ketiga libur musim panasku. Sayang, aku sama sekali belum bisa menikmatinya seperti liburanku yang lalu. Alasannya, karena aku terlalu lelah keesokan harinya. Sudah seminggu ini bayi laki-laki keluarga Kingsley, Andrew, menangis dengan sangat keras setiap malamnya. Kami sekeluarga yang berada tepat di samping rumah mereka sama sekali tidak bisa tidur malam dengan nyenyak. Ayah dan Ibuku juga terlihat kelelahan, padahal mereka berdua harus bekerja esok harinya.

Keluarga Kingsley terdiri dari Tuan dan Ny. Kingsley serta kedua orang putranya, George (7 tahun) dan Bayi Andrew (8 bulan). Ibu Tuan Kingsley, Ny. Mary Ann sebelumnya juga tinggal bersama mereka, tapi beberapa bulan sebelum menantunya melahirkan Andrew, dia pindah ke panti jompo. Dan malangnya, sehari sebelum George -cucu kesayangannya- merayakan ulang tahun yang ke tujuh, tepatnya tiga minggu yang lalu, Ny. Mary Ann yang diizinkan berkunjung ke rumah untuk perayaan, jatuh di kamar mandi dan kepalanya membentur sisi bathtub. Dia dibawa ke rumah sakit dan sampai sekarang masih koma. Walaupun aku tidak terlalu suka pada Ny. Mary Ann karena perangainya yang kasar dan tidak ramah, aku kasihan juga dengan kondisinya yang sekarang.

Kembali ke soal Baby Andrew. Sebenarnya aku juga merasa takut, bukan takut pada tangisan Andrew, hanya saja, dia mulai menangis seperti itu setelah dititipkan padaku. Saat itu Tuan dan Ny. Kingsley membawa George untuk menjenguk neneknya di rumah sakit. Malamnya Andrew mulai menangis dengan keras. Padahal saat dititp padaku siangnya, dia masih baik-baik saja. Banyak tetangga yang sudah datang mengeluh ataupun mengecek keadaan Andrew, yang menurut sebagian orang, menangis dengan tidak wajar. Aku mengerti kenapa beberapa orang berpendapat begitu karena aku sendiri yang sejak berada di kelas 8 sudah sering diminta menjadi baby sitter beberapa ibu muda di sekitar blok ku, tidak pernah mendengar tangisan bayi sekeras Andrew.

Aku ingat di hari kedua Andrew sering menangis. kami sekeluarga datang berkunjung. Tuan dan Ny. Kingsley sibuk mencari cara membuat Andrew berhenti menangis (menggendong, memberi susu, dan membuat wajah lucu). Aku juga mencoba ikut membantu karena sejak umur lima bulan, Andrew dan George sering dititp padaku kalau orang tuanya sedang ada urusan. Tapi aku juga tidak bisa mebuatnya diam. Tangisannya bahkan lebih parah kalau di dengar dari dalam rumahnya.

Tatapan Andrew juga aneh. Kalau tangisannya sedikit berjeda, dia akan melihat langit-langit tanpa berkedip kemudian menangis lagi. Aku mengajak George main game karena takut dia terganggu. Ayah dan Ibu menyarankan Tuan dan Ny. Kingsley untuk membawa Andrew ke dokter tapi ternyata setelah di bawa kesana, dokter mengatakan baby Andrew tidak apa-apa dan hanya diberi penenang dosis rendah. Setelah mencoba meminumkan susu yang sudah dicampur penenang, tak lama kemudian Andrew pun tertidur tapi saat kami kembali ke rumah, kami mendengarnya menangis lagi.

Orang-orang yang melihat keadaan Tuan dan Ny, Kingsley juga pasti akan merasa iba. Tuan kingsley yang di awal bulan masih terlihat tampan dan gagah, setelah Andrew sering menangis, terlihat lebih tua lima tahun. Rambut putihnya dibiarkan begitu saja. Dia juga jadi jarang bercukur. Ny. Kingsley juga sama buruknya. Wanita sosialita itu berubah total menjadi seperti ibu rumah tangga dengan belasan anak. Menjadi mudah panik dan emosi. Untung saja selain tetangga yang kebanyakan mengeluh dengan tangisan Andrew, masih ada keluarga yang memberikan dorongan positif seperti keluarga kami dan keluarga Mc Lanne. Tuan Robert Mc Lanne yang juga seorang dokter umum sering datang berkunjung memeriksa Andrew dan terlihat menghibur Ny. Kingsley. George sendiri, walaupun dengan suasana kurang nyaman di rumahnya, masih sering ku lihat asyik menonton kartun favoritnya. Dia juga kakak yang baik. Tuan Kingsley bercerita pada ayahku kalau walaupun tangisan Andrew kadang membuat mereka stress, George sama sekali tidak pernah menjauhi adiknya. Saat adiknya menangis, dia akan ada disampingnya.

***

Seminggu liburan musim panasku, Tuan dan Ny. Kingsley memintaku menjaga George dan Andrew karena mereka mendapat telepon dari rumah sakit kalau Ny. Mary Ann sedang kritis. Aku bersedia, apalagi di siang hari biasanya Andrew tidak pernah rewel. Seperti biasa, Ny. Kingsley sudah menyipakan makanan untuk kedua putranya dan menitipkan nomor yang bisa aku hubungi kalau ada apa-apa. Andrew sedang tidur di kamarnya dan George sedang nonton kartun saat aku datang.

Aku mulai memanaskan makanan untuk George terlebih dahulu karena kata Ny. Kingsley dia belum sarapan. Tiba-tiba Andrew menangis. “Andrew terbangun” pikirku. George sudah tidak ada di depan TV. Aku langsung naik ke atas, ke kamar Andrew. George ternyata ada disana, beridiri di samping box bayi adiknya. Aku menggendong Andrew tapi tangisannya malah semakin keras. Dia meronta-ronta dipelukannku.

Aku coba menenangkannya, memberinya susu dan membuatnya tertawa. Tapi tak satupun berhasil. Tangisannya menjadi semakin menjadi-jadi. Saking kerasnya aku merasa ketakutan. Aku coba bertanya pada George apa yang bisa membuat adiknya diam. Tapi George hanya berdiri diam menatap adiknya. Aku makin khawatir saat Edward menangis sangat keras sampai wajahnya memerah. Aku makin panik saat keluar darah dari telinganya. Dengan menggendong Andrew dan menggenggam tangan George, aku turun ke dapur untuk menelepon tuan Kingsley tapi tak diangkat jadi aku menelpon orang tua ku. Mereka mengatakan akan segera pulang. Andrew tidak berhenti menangis. Saat aku lihat lagi, matanya juga mulai mengeluakan darah. Tangisannya sangat keras memekakkan telinga, Andrew terlihat seperti akan meledak. Karena orang tuaku belum juga datang, aku meletakkan Andrew di atas sofa dan meminta George menjaga nya sebentar.

Aku lari keluar rumah mengetuk rumah tetanggaku tapi hampir semua rumah di blok ku kosong. Aku berlari ke blok selanjutnya untungnya Nyonya rumahnya ada. Dia ikut denganku ke rumah Tuan Kingsley. Belum beberpa meter dari rumah, kami bisa mendengar suara tangisan Andrew. Saat Tiba dalam rumah, kami terkejut melihat baby Andrew terjatuh di lantai, darah juga keluar dari hidungnya. Kakaknya George berdiri disampinya.

Tetanggaku yang aku lupa namanya segera menggendong Andrew.  “Aku akan membawanya ke rumah sakit!” Aku memberikan kunci mobil Tuan Kingsley yang disimpan di dapur untuk keperluan mendadak kepada Nyonya itu. Aku menggendong George, mengambil handphoneku dan mengunci rumah. Aku mencoba menelepon Tuan Kingsley lagi. Akhirnya dia mengangkat dan setelah ku ceritakan apa yang terjadi, dia meminta kami membawa Andrew ke rumah sakit tempat Ny. Mary Ann dirawat. Di mobil, Andrew masih belum berhenti menangis. Urat-urat lehernya terlihat jelas. Aku harus menutup telingaku dan telinga George saking kerasnya. Aku kasihan pada tetanggaku, kepalanya pasti sakit karena tangisan Andrew.

Sesampainya di rumah sakit, Ny. Kingsley sudah menunggu kami di lobi. Matanya terlihat sembab dan dia gemetaran. Perawat segera membawa Andrew ke ruang gawat darurat. Ny. Kingsley ikut dengan putranya. Aku menelpon orangtuaku dan mengatakan aku ada di rumah sakit. Tetanggaku menemaniku menunggu orangtuaku. Tidak lama kemudian, Tuan Kingsley bergabung dengan kami, dia mengabarkan kalau ibunya meninggal satu jam yang lalu. Orang tuaku pun tibadan mengucapkan turut berduka cita. Ny. Kingsley keluar dari ICU mengabarkan kalau Andrew sudah diberi obat penenang dan pendaharannya juga sudah ditangani. Kami semua merasa lega. Tuan Kingsley dan Istrinya mengurus administrasi. Ayah dan ibuku ikut bersama mereka. Tetangga yang menemaniku ke rumah sakit sudah pulang.

Aku dan George menunggu di lobi rumah sakit. Hampir 30 menit menunggu para orang tua kembali, aku merasa lapar. Aku ingat belum memberi makan George sejak dia dititipkan tadi pagi. Aku mengajaknya ke kafetaria rumah sakit. Tapi dia tidak mau ikut, jadi aku membawanya ke kamar Baby Edward yg sudah dipindahkan ke kamar perawatan. Aku meminta nya menunggu disana dan menjaga adiknya. Setelah membeli paket burger aku segera kembali ke kamar Edward. Saat aku tiba di depan kamar Edward, terdengar tangisan Ny. Kingsley. Aku berlari masuk. Di dalam, Ny. Kingsley menangis dipelukan suaminya, sementara dokter tampaknya sedang memeriksa nadi baby Edward.

Aku bertanya apa yang terjadi pada ibuku yang juga ada disana bersama ayah. “Edward sudah meninggal” Jawabnya. Aku coba melihat tarikan nafas dari tubuh bayi kecil Edward tapi dadanya tidak bergerak lagi. Aku menangis tak percaya.

“Bawa George keluar” Pinta ibuku sambil memberikan George untuk aku gendong. Aku menggendongnya keluar sambil menangis dan mengusap kepalanya. Perawat berlarian masuk ke kamar Edward. Aku kembali memeluk George tapi sepertinya George menolak. George menolehkan wajahnya padaku. Aku tidak tahu kenapa tapi saat mata kami bertemu aku merasa ketakutan. Aku baru sadar itu adalah ekspresi pertama yang ditunjukkan George selama dia dititp padaku.

Dia tersenyum dan dengan suara anak-anaknya dia berkata “Jangan menangis, Kak! Anak setan itu sekarang sudah pergi”.

Mendengar itu aku menurunkan George dari gendongan ku. “Apa yang kau lakukan pada adikmu?” Tanyaku panik.

“Dia bukan adikku.” Jawabnya tenang. Dia tersenyum menatap kamar Edward. Aku menatapnya dengan heran dan takut. Tiba-tiba dia menoleh padaku sambil tersenyum dan menggenggam tanganku. Tangannya kecilnya sangat dingin. Aku ingin sekali melepaskan genggamannya karena entah kenapa aku merasa sangat takut. Dia terus menatapku dan otakku terus saja meminta badanku untuk bergerak, tapi aku tidak bereaksi sedikitpun. Genggamannya makin erat. Aku merasakan orang-orang lalu lalang disekitar kami tapi aku dan George seakan diam seperti patung.

***

Pemakaman Ny. Mary Ann dan Andrew dilakukan pada hari yang sama. Tuan dan Ny. Kingsley sangat terpukul. Malam setelah kematian baby Andrew, suasana blok kami sangat tenang. Suara tangisan keras Andrew yang selama dua minggu ini sangat mengganggu, tidak terdengar lagi. Keluarga dan para tetangga datang silih berganti menghibur keluarga Kingsley. Ibu juga sering memintaku untuk menemani George yang entah kenapa tak ada satupun anak mau bermain dengannya. Aku tahu alasannya dan tentu saja aku menolak.

Sebulan setelah pemakaman, masalah belum meninggalkan keluarga Kingsley. Kondisi kejiwaan Ny. Kingsley menjadi tidak stabil. Dia sering berteriak tidak karuan saat tuan Kingsley tidak di rumah. Aku sering melihatnya duduk di gazebo belakang rumahnya meringkuk seperti orang ketakutan. Dia bahkan nekat masuk ke rumah keluarga McLanne – tetangga depan rumah mereka – dan menyerang tuan Robert. Tuan Robert terluka cukup parah Dan harus dibawa kerumah sakit. Setelah insiden itu, Tuan Kingsley memututuskan untuk memasukkan istrinya ke panti rehabilitasi agar tidak membahayakan George.

Para tetangga dan orang tuaku prihatin dengan keadaan Ny. Kingsley. Mereka berpendapat kalau kehilangan Andrew merupakan pukulan yang sangat keras untuknya. Hanya saja mereka tidak tahu apa yang ku lihat saat petugas rehab datang menjemput Ny. Kingsley yang terus berujar  maaf. Dari jendela rumahku aku melihat George yang saat itu digendong oleh tuan Kingsley yang malang, tersenyum melihat ibunya dibawa pergi. Senyum yang sama yang ia tunjukkan saat Andrew meninggal. Orang-orang juga tidak melihat kalau sebenarnya selama ini ada seseorang yang selalu menggenggam tangan kecil George. Orang yang sama yang menggenggam tanganku di rumah sakit.

Ny. Mary Ann ada disana, tersenyum melihat menantunya merancuh tak karuan. Dan, tidak tahu bagaimana, aku juga tahu kalau Ny. Kingsley lah yang mendorong ibu mertuanya di kamar mandi dan roh Ny. Mary Ann mulai mengikuti cucunya George saat mereka datang menjenguknya. Seandainya aku sadar lebih awal bahwa Andrew sering menangis kalau George ada didekatnya, aku mungkin bisa melakukan sesuatu untuknya, Belakangan aku juga baru sadar, Andrew menjadi semakin parah di waktu yang sama saat Ny. Mary Ann dinyatakan meninggal. Entah apa yang nenek itu lakukan padanya. “He still a baby for God sake.” Jeritku ku mengingat tubuh kecil Andrew yang tak bernyawa lagi. Aku mengusap bekas genggaman hitam dipergelangan tanganku.

***

Tak lama setelah itu, gosip mulai bermunculan di sekitar blok kami. Tuan Robert di rumorkan berselingkuh dengan Ny. Kingsley. Gosip itu mulai beredar saat Ny. Mc Lanne menggugat cerai suaminya setelah keluar dari rumah sakit. Bahkan ada juga yang bilang kalau Andrew bukan lah putra Tuan Kingsley.

What Do You Think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s