Untitled – Chapter 2


Yosh! Chapter 2 di sini. Aku masih belum menemukan judul yang tepat dan sepertinya belum ada yang membacanya chapter 1 (kasian,kasian, kasian). Tapi, tidak apa-apa, selama aku masih senang menulis cerita ini (semoga bisa sampai selesai). Yosh! Semangat! Siapa pun yang membaca, aku tunggu kritik dan sarannya ya! Selamat membaca🙂

Chapter 1 is here

Chapter 2

Which One Is The Ghost?

            Malam hari di kediaman Hanazawa. “Apa kau sudah minum obat?” Tanya Kakak Yuki yang sedang mencari-cari sesuatu di laci meja Yuki

“Iya. Aku sudah tidak apa-apa jadi tolong jangan khawatir.”

Yuki sudah masuk dalam selimutnya saat kakaknya bertanya lagi. “Obat asmamu di mana?”

“Eh? Sepertinya di dalam tas ku.”

“Aku sudah periksa tapi tidak ada. Apa kau yakin membawanya ke sekolah?”

“Eh, aku yakin. Saat aku kelelahan berlari, aku ingat memakainya sebentar kemudian aku terjatuh dan … eh, sepertinya obatku hilang saat aku jatuh.” Jawab Yuki dengan suara yang hampir tidak bisa di dengar.

“Padahal aku baru membelinya minggu lalu. Huh, apa boleh buat, aku akan singgah di apotik sepulang kerja besok. Kenapa juga kau harus lari-lari di tanggul.” Kakak Yuki menatap Yuki sebentar kemudian berjalan ke arah pintu. “Istirahatlah, aku akan menelepon sekolahmu besok.”

“Eh, kakak.” Panggil Yuki.

“Hmmm?”

“Siapa yang membawa ku ke rumah sakit?”

“Oh, aku hampir lupa. Jangan lupa berterima kasih pada Raito. Dia yang membawa dan menemanimu di rumah sakit sampai aku tiba.” Kakak Yuki menutup pintu dan mematikan lampu. “Selamat malam.”

“Malam, Kak” balas Yuki. Yuki menarik selimutnya sampai leher. “Raito?” gumamnya.

Beberapa menit kemudian……

“Ehm, maaf bisakah kau berhenti sekarang?” Pinta Yuki.

“Tapi ini benar-benar luar biasa. Lihat orang-orang kecil ini. Bagaimana mereka bisa masuk kesana? Ingin sekali rasanya aku melibas mereka karena mengabaikanku. Dan wanita kerdil itu cantik sekali.” Ryu terlihat gemas.

“Itu hanya acara TV. Tolonglah, aku ingin istirahat. Kau bilang hanya akan melihat sebentar.” Yuki jadi menyesal menyalakan TV nya untuk Ryu.

Sejak dari stasiun sampai rumah Yuki, Ryu terus saja berusaha lari menjauhi Yuki tapi beberapa meter kemudian dia akan terpental kembali ke dekat Yuki seperti saat di ruah sakit. Yuki awalnya tidak kebertaan Ryu mencoba melepaskan diri darinya karena dia juga tidak ingin berurusan dengan hantu gentayangan pemarah seperti Ryu. Tapi melihatnya terus berlari kiri kanan dan bahkan seringkali menembus tubuhnya saat terpental kembali, dia akhirnya meminta Ryu berhenti. Setelah Ryu sepertinya juga berhenti mencoba, dia kemudian sadar dengan keadaan sekelilingnya dan mulai kagum pada apapun yang dia lihat (mobil, sepeda, lampu, dsb). Bahkan saat Yuki dan kakaknya berbicara tadi, Ryu sibuk berlarian di kamar Yuki dan bergumam “Wow” pada semua benda yang ia lihat. Dan agar dia berhenti berlarian di kamarnya, Yuki menyalakan TV tapi sekarang Ryu tidak mau berhenti tertawa dan berkomentar di depan TV.

Apa-apan ini? Apa dia jenis hantu yang kampungan? Bajunya aneh. Setahuku tidak ada satupun zaman di Jepang dengan pakaian tradisional seperti itu.” Pikir Yuki. Dia memandang dari ujung kaki sampai kepala Ryu. Dia tidak memakai alas kaki. Dia memakai celana dari sutra berwarna coklat. Bajunya sendiri terlihat seperti mantel kulit bulu berwarna hitam dengan bulu dikerahnya. Rambutnya panjang sampai punggung. Banyak luka gores di wajahnya tapi dia masih terlihat tampan. “Dilihat dari manapun, dia tampak seperti seorang gigolo yang pemarah.” pikir Yuki.

“Tapi tolong jangan terlalu ribut.” Pinta Yuki.

Ryu berbalik ke arah Yuki dan menatapnya tajam. “Berani sekali makhluk rendah sepertimu, memberiku pe… Auch.”

Yuki mendaratkan sebuah buku tepat di wajah Ryu.

“Sial. Kau beruntung karena sepertinya hanya kau yang bisa menyentuhku. Kau tunggu saja, setalah terbebas darimu, orang pertama yang kuhabisi adalah kau.”

“Yah, terserah. Sekarang, aku mohon diamlah.”

Yuki kembali menarik selimutnya dan membaringkan kepalanya di atas bantal lembutnya saat Ryu berteriak tiba-tiba. “Siapa disana?” Yuki sudah siap untuk melemparkan sebuah buku lagi keaarah Ryu. “Tung..tunggu sebentar, aku yakin ada seseorang di luar jendela.” Serunya. Ryu berjalan menembus keluar jendela kamar Yuki dan melihat sekeliling balkon. Beberapa menit kemudian dia kembali ke dalam kamar. “Sepertinya aku salah lihat.”

Yuki melihatnya dengan tatapan kosong dan melemparnya dengan buku yang lebih tebal daripada sebelumnya.

***

            “Apa yang kita lakukan disini? Bukankah kakakmu memintamu istirahat di rumah? Ayo kita pulang saja, ada sesuatu yang ingin kulihat  di TV.” Rengek Ryu.

“Ini hanya sebentar.” Jelas Yuki. “Dia nonton sampai jam berapa semlam, dia bahakan sudah punya jadwal acara favorit. Hebat.” Pikir Yuki.

Saat Yuki terbangun di pagi hari, Ryu masih asyik di depan TV. Dia tidak bergerak dan hanya tertawa-tawa saat melihat acara TV. Bahkan saat Yuki sudah siap untuk pergi ke tanggul mencari obat asmanya, Ryu memaksanya untuk tinggal sampai acaranya selesai. Tapi Yuki ingin pergi pagi-pagi supaya mataharinya tidak terlalu terik. Yuki mencoba pergi sendiri meningglakan Ryu. Tapi sudah bisa di tebak, seperti magnet, Ryu tidak bisa berpisah 1 Km dari Yuki. Ryu bahkan coba berpegangan pada sesuatu tapi selalu saja tertarik kembali kearah Yuki. Dengan berat hati Ryu pun ikut dengan Yuki.

“Kita sudah lama disini. Seseorang mungkin sudah mengambilnya. Ayo kita pulang saja.” Rengek Ryu.

“Tolong tunggu sebentar. Obat itu harganya cukup mahal. Aku tidak ingin kakakku menghabiskan gajinya hanya untuk obat ku. Carilah di sebelah sana!” Pinta Yuki.

“Hey, kesini sebentar.” Panggil Ryu tiba-tiba.

Yuki berlari kedekat Ryu yang seperti sedang mengintip sesuatu di balik semak. “Ada apa?” Tanya Yuki.

“Jangan ribut. Coba lihat disana.” Ryu mendorong kepala Yuki kebawah, menyuruhnya menunduk.”

“Eh?” Yuki memandang Ryu. “Eh, sejak kapan dia bisa menyentuhku?” gumam Yuki. Yuki kemudian melihat apa yang sedang di intip oleh Ryu. Tiga orang laki-laki sedang berdiri sambil tertawa-tawa dan di depan mereka sepertinya ada seorang wanita yang sedang terbaring. Yuki tidak bisa melihat wajah wanita itu karena terhalang punggung seorang pria lagi yang mulai meraba-raba paha sang wanita.

“Eh, seharusnya kita tidak melihat ini.” Bisik Yuki. Dia melihat Ryu yang sepertinya terlihat senang. “Eh, dasar maniak.” Ejek Yuki.

Yuki berdiri meninggalkan Ryu saat Ryu tiba-tiba menarik tangannya ke bawah. “Tunggu sebentar. Apa yang mereka lakukan?”

Yuki kembali melihat kedua laki-laki dibalik semak itu. Sekarang wajah wanita itu sudah bisa terlihat jelas. Tangannya terikat, mulutnya di plester dan wajahnya lebam, dan terlihat jelas kalau wanita itu menangis. “Sial, ini perkosaan. Kita harus minta bantuan.” Seru Yuki. Yuki berdiri akan beranjak pergi saat dia sadar Ryu sudah berlari lebih dulu ke arah para pemerkosa itu. “Apa yang kau lakukan?” Seru Yuki yang masih bersembunyi.

Ryu mengeluarkan pedangnya dan mengayun-ayunkan nya ke arah laki-laki bejat itu tapi tentu saja pedangnya sama sekali tidak mengenai mereka. Ryu terlihat frustasi. Dia menendang, memukul, dan menebas tapi tak ada satupun yang berguna. Para pria bejat itu masih tertawa-tawa dan mulai membuka pakaian wanita itu. Yuki yang melihat dari balik semak seakan tidak bisa melakukan apa-apa. Tangan dan kaiknya gemetar tidak tahu harus berbuat apa. “Sial, kenapa aku harus lupa HP ku di saat seperti ini?”

Ryu terlihat kelelahan karena terus memukul angin. “Sial, sial, sial.” Teriaknya.

“Pak polisi mereka disini.” Ryu mendengar seruan Yuki. Yuki melangkah ke luar dari semak sambil terus berteriak memanggil polisi.

Para pria berandal itu terlihat panik dan mulai berlari. “Tunggu sebentar.” Teriak salah satu dari mereka. Pria itu melihat ke arah Yuki yang terlihat jelas sangat gugup. “Gadis itu berbohong. Cepat tangkap dia.” Seru si pemuda.

Tiga orang dari mereka kemudian berlari cepat mengejar Yuki yang juga mulai berlari. Tentu saja mereka lebih cepat. Mereka berhasil menangkap Yuki membawanya kedekat wanita yang sekarang sudah setengah telanjang. Wanita itu masih menangis, wajahnya terlihat lebih parah dilihat dari dekat.

Salah seorang dari pria-pria bejat itu mencekik leher Yuki. “Berani sekali kau menipu kami.”

“Dia cukup manis, kenapa kita tidak coba dia juga.” Tambah pemuda yang satunya. Pemuda itu memaksa mencium Yuki.

Yuki memberontak dan terus bergerak. “Tolong, hentikan.” Pinta Yuki tapi pemuda itu tidak mau berhenti. Dia mencium Yuki dengan paksa. Dia mencoba memaksa memasukkan lidahnya dalam mulut Yuki. Saat lidahnya sudah berhasil masuk, Yuki langsung menggingit lidah pemuda itu. Darah mengalir ke luar dari mulut Yuki.

“Enarinya au (beraninya kau).” Teriak pemuda itu dengan mulut penuh darah. Teman pemuda itu kemudian menampar wajah Yuki dengan sangat keras. Pipinya langsung memerah. Yuki tidak mau kalah dan menendang tulang kering pemuda yang menamparnya. Mengambil kesempatan, Yuki bangkit dan mulai berlari tapi seperti tadi dua pemuda yang masih sehat berhasil menangkapanya dan mendorongnya jatuh ke tanah. Salah satu dari mereka kemudian menampar Yuki lagi. Kali ini sampai bibir Yuki berdarah.

Ryu dengan wajah yang sangat marah berdiri di belakang pria yang menindih Yuki. Dia mengangkat pedangnya siap menebas.

Yuki yang melihat posisi Ryu yang siap menebas pria di atasnya teringat kalau sepertinya Ryu sudah bisa menyentuhnya dan khawatir pedangnya juga sudah mengenainya sekarang. Kalau Ryu menebas, dia pasti akan menebas sampai ke tanah dan mengenainya.

Ryu mengayunkan pedangnya dan lagi-lagi menembus tubuh orang yang paling ingin dia tebas saat ini. Dia hampir saja menebas sampai tanah saat mendengar suara Yuki memintanya berhenti. Ryu melihat Yuki menahan pedangnya dengan tangannya yang diperban.

Sudah ku duga, pedangnya juga bisa melukaiku.” Pikir Yuki. Ryu mengangkat pedangnya dengan cepat. Pedangnya masih menembus pria yang masih menindih Yuki. Pria itu sekarang terlihat heran melihat luka Yuki.

“Sepertinya kau sedang terluka, anak manis?” ejek pria itu yang masih dengan keras menahan tubuh Yuki.

Ryu yang sepertinya sudah menyadari kalau dia dan pendangnya sudah bisa menyentuh Yuki. Kemudian berlutut di atas kepala Yuki dan mencoba menarik tubuhnya keluar dari tindihan pria itu. Yuki juga berusaha menggoyangkan badannya agar bisa bergerak. Pria yang menindih Yuki heran karena sepertinya tubuh Yuki tertarik sendiri. Ryu yang melihat kesempatan itu, menarik tubuh Yuki sekuat tenaga.

Yuki akhirnya berhasil lolos. Dia dan Ryu berlari tapi anehnya ke empat pemuda tidak lagi mengejar. Ryu berhenti dan berbalik ke belakang. Salah satu pemuda itu membawa batu yang cukup besar di tangannya. Dia berlari-lari kecil dan mengambil posisi melempar yang sangat baik. “Awas!” seru Ryu.

Yuki berhenti dan berbalik. Ryu menerjangnya jatuh. Secara reflex, Yuki menahan Ryu dengan tangannya dan entah bagaimana hal selanjutnya yang dilihat Yuki hanyalah kegelapan. Dia bisa melihat kaki, tubuh dan tanngannya. Tapi pemuda, wanita, dan Ryu tidak lagi ada disana. Yuki mulai panic dan memanggil Ryu.

“Jangan teriak. Aku bisa mendengarmu dengan jelas.” Seru Ryu.

Yuki melihat sekeliling. Sejauh matanya memandang, yang ada hanya kegelapan. “Kau dimana?”

“Kau tenang saja di sana. Biar aku yang menyelasaikan semuanya.”

“Eh, apa maksudmu? Aku dimana?”

Ryu melihat tangan dan kakinya. Kakinya bisa menapak langsung di atas tanah. Dia merasakan rumput-rumput di kakinya dan belaian angin di atas kulitnya. Dia menggenggam pedangnya dengan kuat dan mengibaskannya dengan kuat. Angin dingin berhembus di saat bersamaan.

“Kau.. kau.. siapa? Dimana gadis itu?” ke empat pemuda itu terlihat heran melihat Ryu berdiri dihadapan mereka. Beberapa saat yang lalu, batu yang pemuda itu lemparkan hampir saja mengenai kepala Yuki tapi Yuki jatuh tepat pada waktunya dan tahu-tahu Yuki tidak terlihat lagi dan Ryu menggantikan posisi Yuki.

Ryu tertawa. Para pemuda itu terlihat heran. “Kau si…?” belum sempat mereka bertanya, Ryu sudah berada dihadapan orang yang tadi menindih Yuki. Dengan cepat, Ryu melayangkan tinjunya di perut pemuda itu dan sedetik berikutnya di melayangkan tendangannya tepat di atas kepala pemuda lainnya. Ryu selanjutnya dengan sangat cepat berlari ke arah pemuda ke tiga (yang menampar Yuki) dan menghantammnya dengan punggung tangan.

Pemuda terakhir yang masih berdiri terlihat ketakutan melihat satu persatu rekannya tumbang dan tidak bergerak lagi. Ryu sekarang berjalan dengan santai ke arahnya. Sambil tertawa dengan keras, dia mengayunkan pedanganya dan menjilat darah yang ada di balik tangannya.

Yuki masih berada di dalam ruang gelap. “Apa-apaan ini?” Dia melihat tangannya dan melihat kegelapan yang ada di depannya. “Aku ada di dalam tubuhmu kan? Ryu?” seru nya.

Pemuda itu mulai melihat Ryu berbicara sendiri. “Lama sekali baru kau sadar.”

“Eh, tapi bagaimana mungkin?” Yuki bingung.

“Mana aku tahu. Yang penting sekarang aku bisa membalas dendam.”

“Eh, tapi kenapa bisa begini? Siapa hantunya disini? Bukankah kalau seseorang dirasuki hantu, maka tubuhnya akan diambil alih tapi kenapa sekarang sepertinya aku yang merasuk ke dalam tubuhmu?” Pikir Yuki.

“Sudah ku bilang, aku sama sekali tidak peduli.” Ryu sampai di hadapan pemuda yang terakhir, dia bersiap mengayunkan pedangnya.

“Hentikaaan.” Yuki berteriak.

“Jangan berteriaaak.” Ryu menutup telinganya.

“Kau bukan mau balas dendam dengannya kan? Jangan membunuh orang sembarangan.” Pinta Yuki. Ryu terdiam sebentar sementara pemuda itu jatuh terduduk saking takutnya. Dia memohon ampun pada Ryu. Ryu menatapnya sebentar kemudian menendangnya. Pemuda itu langsung pingsan.

Ryu kemudian berjalan menuju gadis yang tampak ketakutan dan berusaha menutupi dadanya. Ryu memungut pakaian gadis itu dan memberikannya padanya. Gadis itu menangis saat memakai bajunya. “Makanya, kau harus lebih hati-hati dan belajaralah untuk menjaga diri sendiri.” Ryu menasehati. Gadis itu mengangguk pelan.

“Sekarang, keluarkan aku dari sini.” Sela Yuki.

“Mana aku tahu caranya. Kau masuk dalam tubuhku saja, aku tidak tahu caranya. Mungkin ini sebabnya aku tidak bisa jauh darimu dan hanya kau yang bisa menyentuhku. Karena tubuhmu adalah wadah untukku. Mmmm atau sebaliknya.”

“Jangan permainkan aku. Cepat keluarkan aku dari tubuhmu.”

“Aku tidak main-main. Aku memang tidak tahu caranya. Kau tinggal saja disana selamanya” Gadis itu terlihat heran melihat Ryu bicara sendiri.

“Keluarkan aku, aku ingin bertemu dengan kakakku. Ayo keluarkan aku.” Yuki mulai menangis dan mencari jalan keluar. Dia terus berjalan tapi sepanjang yang bisa ia lihat hanya kegelapan. Dia menjulurkan tangannya untuk meraba-raba dan merasakan sesuatu yang lembut dan bisa didorong.

“Jangan merengek. Sudah kubilang takdirmu adalah menjadi wadah kebangki…” belum selesai Ryu berbicara, kepala Yuki berhasil ke luar dari tubuh Ryu. Saat seluruh badannya sudah berhasil keluar. Ryu menghilang atau lebih tepatnya tidak bisa dilihat oleh orang lain lagi selain Yuki.

Gadis yang hampir diperkosa itu tampak bingung. Dia menoleh kiri kanan mencari Ryu yang sekarang tempatnya digantikan oleh Yuki.

Sementara itu, Ryu ternyata masih berdiri di tempatnya tadi dan berteriak-teriak marah pada Yuki. “Cepat masuk lagi dalam tubuhku.” Ryu terus menabrakkan tubuhnya dengan badan Yuki berharap bisa memasukkan Yuki ke dalam tubuhnya lagi. Yuki harus menahan tubuhnya berdiri tegap sementara Ryu terus mendorongnya.

“Maaf, pria tadi mana?” Suara gadis itu membuat Ryu berhenti.

“Eh, itu. Bagaimana menjelaskannya ya?” Yuki bingung harus mengatakan apa.

“Tidak apa-apa kalau tidak bisa menjawab. Aku tidak terlalu mengerti tapi, entah kekuatan apa yang kau gunakan, aku sangat berterima kasih karena kau sudah menolongku.

“Eh, iya sama-sama.”

***

            Yuki dan Ryu mengantar gadis itu pulang. Syukurlah orang tuanya sedang tidak ada di rumah jadi mereka tidak perlu khawatir. Gadis itu menawari Yuki untuk tinggal makan malam tapi Yuki ingat kalau dia keluar rumah tanpa minta izin kakaknya, jadi dia menolak.

Pada akhirnya Yuki pulang tanpa berhasil menemukan obat asmanya. Ryu tidak banyak bicara dan meluangkan waktunya di depan TV sambil berpikir bagaimana caranya agar Yuki bisa masuk dalam tubuhnya lagi.

Yuki melihat tangannya yang terluka karena menahan pedang  Ryu. Dia sudah mengganti perbannya agar kakaknya tidak tahu. Untunglah memar diwajahnya tidak terlalu parah jadi kakaknya tidak akan tahu kalau dia habis di pukuli seseorang.

“Aku mohon, aku tidak tau bagaimana caranya, tapi izinkan aku meminjam tubuhmu untuk menemui seseorang.” Ryu terlihat sangat serius dengan permintaannya.

“Eh, baiklah. Kalau aku tahu caranya. Aku pasti akan membantumu.” Dua hari bersama Ryu, baru kali ini dia mendengarnya memohon. “Apa kau sudah tahu caranya?”

Mendengar pertanyaan Yuki, Ryu berdiri dan berjalan mendekati Yuki. Dia menatap Yuki kemudian mendorongnya jatuh di atas tempat tidur. Ryu menahan tangan Yuki dan menindahkan tubuhnya di atas Yuki.

“Hey, apa yang kau lakukan?” Yuki berusaha melepaskan tangannya tapi genggaman Ryu terlalu kuat.

Ryu melepaskan Yuki setelah cukup lama menindihnya tapi tidak terjadi apa-apa.

Yuki menjitak kepala Ryu. “Dasar maniak. Kau pasti sengaja, kan?”

“Jangan besar kepala. Kau sama sekali bukan tipe ku.”

“Apa katamu?” Yuki mencekik leher Ryu.

“Ampun, ampun. Maafkan aku.”

Yuki melepaskannya dan Ryu kembali ke depan TV terlihat lebih senang. “Oh ya, memangnya kau mencari siapa? Sebelum aku bisa masuk dalam tubuhmu lagi, ada baiknya kita mencari orang itu lebih dulu. Dia mungkin sudah jadi hantu juga sekarang.” Jelas Yuki.

“Tidak. Aku yakin dia sudah reinkarnasi sekarang. Dia adalah cinta pertamaku.”

What Do You Think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s