Untitled – Chaper 1


Akhirnya setelah banyak pertimbangan dan tebal muka, aku memutuskan  untuk menulis hasil dari imajinasi setelah nonton anime dan membaca manga. Kalau cerita ini bisa selesai, maka ini akan menjadi seri pertamaku (Walaupun jelek, aku akan tetap bangga). Aku akan sangat berterima kasih bagi siapapun yang membacanya dan bisa menyempatkan diri untuk memberi kritik dan saran. O ya, maaf judulnya belum ada (belum kepikiran). Selamat membaca!

Chapter 1

The Encounter

Pukul 03.00 sore, tiga orang anak laki-laki berseragam  SMU terlihat sedang mengejar gadis dengan seragam yang sama. Gadis itu walaupun tersengal-sengal, dengan sekuat tenaga terus berlari. Mereka terus berlari sampai di atas tanggul belakang sekolah. Di sisi sebelah kanan tanggul terdapat sungai kecil (kali) dengan air yang cukup dangkal – berhubung sekarang sedang musim panas. Sebelah kiri bawah tanggul, ada padang semak belukar yang lebat dan tinggi dan pohon-pohon tinggi dengan daun lebat.

Gadis yang tadinya masih menunjukkan keinginan kuat untuk berlari, tiba-tiba berhenti, kedua tangannya memengang lutut dan menghembuskan napas yang sedikit-sedikit. Dia meraih dan mencari sesuatu dalam tasnya. Dengan tangannya yang gemetaran dan napas yang tampak akan segera habis, dia mengeluarkan semprotan obat asmanya. Masih dengan tangan yang gemetar seakan menggenggam sesuatu yang berharga, dia menyemprotkan satu kali obat asmanya ke dalam mulut, napasnya mulai kembali teratur tapi masih belum bisa berdiri tegak. Belum sempat gadis itu menyemprot untuk yang ke dua kalinya. Dua dari tiga orang yang mengejarnya berhasil menyusul. Dengan menggengam obat asmanya dan dengan napas yang belum teratur gadis itu melanjutkan berlari.

Dua pemuda itu terus mengejar dan meminta gadis itu untuk berhenti. “Hey, berhenti kau pengadu!” Teriak salah satu pemuda. Jelas sekali mereka juga kelelahan.

“Kalian payah, mengejar gadis asma saja tidak bisa!” teriak pemuda ketiga yang berlari lebih santai dibelakang.

“Kami baru saja selesai makan bos.” Pemuda itu beralasan. Walaupun begitu kedua pemuda yang paling dekat dengan gadis itu memperkecil jaraknya dengan gadis itu.

Sementara itu, gadis asma tadi mulai panik, napasnya kembali memendek, dia berlari sambil memegang dadanya sekarang. Langkah kakinya mulai terhuyung-huyung. Setelah berlari beberapa langkah, kakinya terkilir. Dia mencoba meyeimbangkan badannya, tapi kakinya terlalu sakit untuk untuk digerakkan, dia pun kehilangan keseimbangan dan terjatuh berguling ke sisi kiri tanggul. Badannya terus berguling seperti batang pohon yang digelindingkan dari atas bukit. Wajahnya beberapa kali terhantam keras oleh bebatuan kecil. Dia terus berguling hingga tubuhnya hilang masuk dalam semak.

***

Kedua pemuda yang mengejarnya menghentikan larinya. “Hei, awas!” teriak mereka saat melihat gadis itu mulai kehilangan keseimbangan. Mereka melihat tubuh gadis itu berguling-guling menuruni tanggul.

Pemuda ketiga menyusul dari belakang langsung melampaui kedua rekan berlarinya. “Yuki!” Teriak si pemuda ketiga seakan ingin berlari mengejar gadis yang berguling tadi. “Sial! Hey, kalian berdua, kenapa diam saja cepat cari dia. Apa kalian ingin berurusan dengan pihak berwajib.” Perintah pemuda ketiga.

Kedua pemuda itu kemudian berjalan pelan menuruni tanggul. “Menyebalkan, anak itu ceroboh sekali.” Seru salah seorang pemuda.

***

Sementara itu, ternyata tanggul itu cukup tinggi dan sepertinya menukik hampir 90 derajat, bahkan setelah masuk ke dalam semak belukar, Yuki masih berada dalam posisi berguling. Dia mencoba meraih sesuatu untuk berpegangan, Tangannya berhasil memengang sebuah batang besi yang sepertinya tertancap kedalam tanah. Dia akhirnya berhenti berguling namun lama-kelamaan tangannya yang menggengam besi tua itu mulai mengeluarkan darah. Karena merasakan tangannya yang makin perih, dia melepaskan genggamannya. Sontak tubuhnya kembali berguling sebelum akhirnya berhenti setalah punggungnya menghantam pohon besar.

Yuki meringis kesakitan, napasnya makin pendek dan dia meraba-raba punggungnya untuk sedikit menghilangkan rasa sakit setelah menghantram pohon. Dia mencoba bangkit dan berhasil menyandar di saat angin tiba-tiba berhembus kencang. Dia harus menutup matanya agar daun-daun kering tidak masuk dalam matanya. Anginnya kemudian berhenti berhembus dengan tiba-tiba.

Yuki mengusap kedua matanya sebelum membukanya pelan-pelan. Setelah mendapat cukup cahaya masuk ke dalam retina matanya, benda-benda mulai menampakkan dirinya. Dengan samar dia melihat sosok seseorang berdiri di depannya dengan pakaian aneh. Yuki mengedipkan matanya agar bisa melihat lebih jelas. Seorang laki laki berpakaian aneh berdiri di depannya sambil menghunuskan pedang yang tampak tajam tepat diantara kedua matanya.

Dengan reflex, dia langsung menghindar dan duduk menyandar pada pohon. Pria yang sepertinya sedikit lebih muda daripada ketiga pemuda yang mengejarnya kemudian mengangkat pedangnya. “Akan ku habisi kalian semua!”

“Apa-apan ini.” Gumam Yuki. Nafasnya kembali tersengal-sengal, dia memegangi dadanya, matanya menatap langsung mata pemuda itu, kemudian pandangannya mulai kabur seperti akan kehilangan kesadaran. Di ujung sadarnya, dia mendengar suara dua orang memanggil namanya. Dia bisa melihat pria asing itu akan membelah dua kepalanya dengan pedang dan dengan samar dia juga bisa melihat, kedua pemuda yang tadi mengejarnya berlari kearahnya menembus tubuh pemuda berpedang seakan hanya menembus kabut dan semuanya kemudian menjadi gelap.

***

            Suara orang-orang berlarian disekitarnya makin lama terdengar semakin jelas. Cahaya terang terlihat pertama kali dia membuka mata. Yuki merasakan sedang berada dalam posisi terbaring di atas tempat tidur yang agak keras. Dari arah sebelah kirinya, terdengar suara wanita dan anak kecil menangis memannggil “ayah”. Perlahan Yuki menengok ke sebelah kiri. Seorang wanita paruh baya dan seorang gadis kecil sedang menagisi seseorang yang tertutup kain putih. Yuki pun sadar, dia sedang ada di rumah sakit. Dia mencoba mengingat-ingat kenapa ia berakhir disini.

Dia ingat di kejar oleh ketiga preman sekolah beberapa langkah setelah melewati gerbang sekolah. Mereka marah karena sepertinya seseorang telah mengadukan mereka memalak uang junior pada guru dan mereka mengira dialah orangnya. Dia ingat harus berlari sampai di tanggul dan jatuh berguling dari atasnya. Dia juga ingat dengan samar seorang pemuda dengan baju aneh membawa pedang yang sepertinya ingin membunuhnya. “Sepertinya aku pingsan saat jatuh berguling, aku bahkan sampai bermimpi aneh.” Gumamnya sambil menyentuh dahinya dan merasakan suhunya.

“Hei, ini zaman apa?” Tanya seseorang dari arah kanannya.

“Eh?” Yuki berbalik. “Eh, kau ini siapa?” tanyanya saat melihat pemuda berbaju aneh yang dia kira hanya mimpi berdiri di samping tempat tidurnya dengan tatapan tidak sabar.

Pemuda itu kemudian mengeluarkan pedangnya lagi dan berteriak pada Yuki. “Ini dimana? Dan kenapa aku tidak bisa ada jauh darimu?!” Wajahnya terlihat geram.

“Eh?” Gumam Yuki tidak kalah bingungnya.

Pemuda itu kemudian meletakkan ujung pedangnya di dekat leher Yuki. Yuki menutup matanya. “Yuki, kau sudah sadar?” suara seorang laki-laki yang Yuki kenal sepertinya datang menghampiri.

“Kakak!” Yuki terlihat lega. Pria yang berumur kira-kira 25 tahun, tinggi dan tampan berdiri di samping Yuki. Sedang pemuda aneh itu kembali menyarungkan pedangnya.

“Apa kau baik-baik saja? Kakak baru saja bertemu dengan dokter. Sepertinya tidak ada yang parah hanya saja luka di tanganmu akan membutuhkan waktu lama untuk sembuh.” Jelas kakak Yuki. “Jadi kau bisa pulang sekarang.”

“Luka di tangan?” Yuki tampak heran. Tak ada rasa nyeri ataupun sakit di tangannya tapi dia merasakan tangannya diperban. Dia mengangkat telapak tangannya untuk melihat lukanya. Lukanya sudah tertutup oleh perban hanya saja garis darah melintang jelas terlihat di permukaan perban. Dia kemudian ingat memegang sesuatu saat jatuh berguling dari atas tanggul. Mengingat hal itu dia melihat pemuda aneh yang masih berdiri di samping kanannya. “Kenapa orang ini masih disini?” Pikir Yuki.

“Mmmm Kakak …” Yuki agak ragu. “Apakah kakak bisa mengusir orang ini?” Pinta Rika sambil menunjuk pemuda aneh yang ada di sampingnya.

Kakaknya berhenti membereskan barang-barang Yuki dan menoleh kearah yang ditunjuk Yuki. Kakaknya hanya bisa memberikan tatapan aneh dan berbisik kepada Yuki. “Kenapa kau menyuruhku mengusir pria tua itu?”

Yuki tidak mengerti. Dia melihat seorang kakek tua yang sepertinya sedang menunggui isterinya yang sedang tertidur di sebelah Yuki. Kakek itu kemudian menoleh padanya. “Kenapa kau ingin aku pergi? Siapa yang akan menjaga isteriku kalau aku tidak ada?” Kakek itu terlihat sedih.

“Ah, maaf, yang ku maksudkan bukan Anda tapi dia.” Yuki sekali lagi menunjuk pemuda aneh itu yang hanya berdiri tegak dengan pandangan marah. Kakak Yuki dan kakek tua itu tidak bisa melihat siapa yang dimaksud oleh Yuki.

“Tunggu sebentar, aku akan memanggil dokter.” Kakaknya berlari cepat keluar dari kamar UGD.

“Percuma saja, sepertinya selain kau, orang lain tidak bisa melihatku.” Pemuda aneh itu berkata.

“Benarkah?” Yuki tampak terkejut lalu ia berkata dengan pelan. “Jadi kau ini hantu?” Yuki penasaran.

“Mana ku tahu!” teriak pemuda itu. “Aku ingin sekali menebas orang-orang tapi tak ada yang bisa melihatku, bahkan pedangku tidak bisa menggores apapun yang ada disini.” Teriaknya lagi sambil mengayunkan pedangnya untuk memotong wanita tua yang tidur di samping Yuki.

“Hentikan!” Yuki langsung bangun dan meraih tangan pemuda aneh itu. Kakek tua tadi menatap Yuki dengan tatapan aneh. Pemuda itu melepaskan pegangan Yuki dan memotong nenek tua itu. Yuki menutup matanya tidak sanggup melihat. Setelah beberapa menit sama sekali tidak ada suara, tidak ada suara kesakitan dari wanita tua itu ataupun suara kakek tua yang memanggil isterinya. Yuki membuka matanya pelan-pelan. Dia melihat pemuda tadi menggerakkan pedangnya seperti sedang menggergaji tubuh renta wanita tua itu. Hanya saja wanita itu tetap tidur dengan pulas. Pedang pemuda aneh itu seakan-akan memotong sesuatu yang transparan atau lebih tepatnya, pedangnya lah yang terlihat transparan.

Pemuda aneh itu terus menggesek tubuh wanita itu. “Mmmmm, maaf, bisa kau hentikan itu. Itu membuatku mual.” Pinta Yuki.

“Bukan hanya itu. Lihat ini.” Pemuda aneh itu kemudian berlari menembus tembok belakang Yuki. Beberapa detik kemudian, pemuda itu terpental kembali ke dalam ruangan UGD. Yuki melihatnya dengan keheranan. Kemudian dia berjalan keluar dari ruang UGD. Beberapa langkah dari pintu, langkahnya sepertinya tertarik mundur kebelakang. Dia mencoba melangkah lagi, tapi lagi-lagi langkahnya tertarik ke belakang – seperti Michael Jackson yang sedang melakukan moonwalk. Dia kemudian marah-marah sambil mengayun-ayunkan pedangnya di hadapan orang-orang yang lewat dan seperti tadi, tak ada satupun yang terluka atau menyadari keberadaan pemuda aneh itu selain Yuki.

Setelah agak tenang, pemuda aneh itu kembali masuk kedalam UGD, ke samping tempat tidur Yuki. “Jelaskan, kenapa aku tidak bisa jauh 10m dari sekitarmu?” tuntut pemuda itu.

“Eh mana aku tahu.” Yuki juga bingung. “Jadi artinya, kau akan terus berada di sekitarku?”

“Tentu saja aku tidak mau. Kau harus cari jalan keluarnya.”

“Eh, kenapa harus aku?”

“Karena memang harus kau.”

“Eh, jawaban macam apa itu.”

“Pokoknya kau harus tanggung jawab”

“Eh, memangnya apa yang kulakukan? Menghamilimu? Yuki balas menjawab dengan marah.

“Sepertinya adikmu bermasalah.” Suara kakek tua di sebelah pemuda itu menghentikan pertengkaran mereka. Kakak Yuki sepertinya sudah tiba dengan dokter disampingnya.

Yuki sadar sepertinya kakek tua dan orang lain dalam ruangan UGD yang sekarang menatapnya aneh melihat dia berbicara dan berteriak sendiri. “Aku tidak apa-apa, tadi aku hanya bercanda.”  Serunya mencoba mengembalikan suasana.

Tapi kakaknya tidak mau mendengar. Dia meminta dokter untuk melakukan pemeriksaan menyeluruh. Setelah  menunggu tiga jam, dokter meyakinkan tidak terjadi apa-apa pada Yuki dan menginginkan mereka pulang.

Yuki naik kereta sendirian tanpa kakaknya. Kakanya sebenarnya memaksa untuk mengambil libur dan menemani Yuki tapi Yuki memaksa dan kakanya akhirnya mengalah. Kereta agak sepi karena saat itu bukan jam sibuk. Hanya ada beberapa orang saja dan hampir semuanya sedang tertidur.

“Jadi, kau akan mengikutiku kemana-mana?” Yuki menoleh kearah pemuda yang duduk di sampingnya. Pemuda berpakaian aneh dengan pedang duduk dengan gugup disamping Rika.

“Kau kira aku mau mengikutimu? Aku terpaksa!” Teriak pemuda itu ditelinga Yuki.

Yuki menutup telinganya. “Kau tidak perlu berteriak.”

Pemuda berpedang itu terlihat lebih tenang. “Tapi, jika kau bisa membantuku mencari seseorang, mungkin roh ku bisa terlepas darimu kalau urusanku sudah selesai.”

“Benarkah?”

“Biasanya memang begitu kan?”

“Sepertinya begitu.” Jawab Yuki. “Oh ya, aku harus memanggilmu apa?”

“Panggil saja aku, Kesatria Kegelapan.” Pemuda aneh itu menjawab dengan serius.

“Eh, aku meminta nama bukan username.”

“Namaku Ryusaku Akira, Sang Kesatria Kegelapan.”

“Eh, ada apa denganmu dan kegelapan? Namaku Hanazawa Yuki, kau bo….”

“Aku tidak bertanya.” Potong Ryu. “Ngomong-ngomong, kita sedang naik apa sekarang? Aku merasa mual.”

“Eh, aku tidak perlu menjelaskan padamu.” Balas Yuki.

“Kau…. Kau…. Uek!” Ryu muntah.”Sudah ku bilang ini membuatku mual.”

“Ih, menjijikkan.” Yuki melihat penumpang yang lain. Tak ada yang memperhatikan mereka atau lebih tepatnya tak ada yang melihat Ryu muntah. “Sepertinya ini akan sangat merepotkan.” Pikir Yuki.

Chapter 2 is here

What Do You Think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s