Rasionalisme Kontinental – PHILOSOPHY An Outline – History


RENÉ DESCARTES (1596 -1650)

(Seringkali dikenal sebagai penemu filsafat modern, rasionalis, epistemologis, dualis metafisikal)

  1. Kehidupan Desacartes
    1. Descartes lahir di La Haye, Turin, anak dari keluarga bangsawan.
    2. Dia didik oleh Jesuit La Flèche, dan menerima pelatihan yang luas.
    3. Dia tidak puas dengan pendidikan awalnya dan meninggalkan sekolahnya (1612). Dan dengan melakukan perjalanan, dia mencari penemuan lebih besar tentang kehidupan dan kebenaran.
    4. Dia masuk militer Maurice Nassau dan Jendral Tilly (1617 dan 1619), bertemu dengan banyak jenis orang tapi tidak pernah berhenti merenungkan permasalahan ilmu filsafat dengan pikiran yang taat beragama.
    5. Pada tahun 1621, dia meninggalakan militer dan mengabdikan dirinya untuk belajar dan berkelana. Empat tahun kemudian dia berasosiasi dengan teman ilmuannya di paris (1625 – 1628)
    6. Merasakan keinginan untuk menyendiri, dia mengasingkan diri ke Holland dan menyibukkan diri dengan persiapan tulisannya.
    7. Setelah dua puluh tahun (1629 – 1649) dia diundang oleh Ratu Christina dari Swedia untuk berangkat ke Stokholm. Cuaca mempengaruhi kesehatannya dan dia meninggal pada tahun 1950.
    8. Karya Besar

Discourse de la method (1637), Meditationes de prima philosophia (1641), Principia philosophiae (1644), Les passions de L’âme (1650).

  1. Pencarian Sistem Filosi oleh Decartes
    1. Descartes menentang kewenangan lama dan menekankan filsafat karakter praktis. “filsafat adalah sebuah pengetahuan sempurna yang bisa diketahui manusia, sama halnya dalam bagaimana ia menjalankan hidupannya, sebagaimana dia menjaga kesehatannya dan penemuan semua kesenian.”
    2. Dia mencari sebuah sistem pemikiran yang memiliki kepastian matematis yang independen dari tradisi skolastik dan dogma teologikal.
    3. Descartes adalah seorang geometrisian dengan selera metafisik. Dia adalah pengagum berat Beacon.
    4. Dia mengembangkan metode Cartesian yang terdiri dari deduksi matematis yang digeneralisasikan dan menekankan pada pengamatan diri sendiri.
    5. Dia mempertahankan bahwa penilain yang adil harus dibuat dari sebuah basis matematikal. Metematik lahir axioms, prinsip. Prinsip-prinsip ini membentuk poin awal untuk deduksi dan dari mereka, proposisi lain mengikuti secara logis, karena metode deduksi (sintesis)
  1. Metode Descartes Sendiri Disimpulkan
    1. Dia tidak akan menerima apapun sebagai kebenaran jika tidak jelas dan tentu.
    2. Dia akan menganalisa sebuah masalah sampai ke bagian-bagiannya dan mendiskusikannya (atomisme dalam metode)
    3. Dia akan mengatur pemikirannya dari yang sederhana ke yang rumit sebagai susunan penelitiannya.
    4. Enumerasinya penuh dan lengkap dan tak ada satupun yang dihapus.
    5. Maxim yang terkenal: Cogito ergo sum.
      1. Descartes mencari untuk menetukan ide apa yang pasti.

(1)   Dalam semua keraguannya, satu hal yang pasti  – seseorang ragu, dan orang ini harus ada.

(2)   Oleh karena itu – dengan ragu, kita berpikir, dan dengan berpikir, kita ada – Cogito ergo sum.

(a)    Ini adalah dalil pembuktian diri sendiri,

(b)   Jadi dia bernalar bahwa kejelasan dan kelangkaan dari sebuah dalil adalah merupakan tanda kebenarannya.

  1. Puas dengan keberadaannya sebagai pribadi pemikir, Descrates selanjutnya mencari keberadaan yang lebih sempurna dibanding dirinya.

(1)   Dia dapat menjelaskan gagasannya sendiri, namun gagasan mengenai pribadi yang lebih sempurna tidak bisa datang dari dirinya sendiri, juga yang lainnya

(2)   Mahkluk yang lebih sempurna ini adalah Tuhan, yang muncul dari ide sang makhluk sempurna.

  1. Setelah membuktikan dirinya dan Tuhan, selanjutnya Descrates mencoba untuk membuktikan keberadaan hal-hal material

(1)   Apa yang menyebabkan persepsi manusia yang timbulnya tanpa pemikiran? Mereka datangnya dari Tuhan ataupun persoalan.

(2)   Dunia materi seringkali dianggap sebagai eksistensi.

(a)    Tuhan adalah substansi yang tak terbatas, tempat semua hal bergantung.

(b)   Jiwa adalah substansi yang berpikir.

(c)    Tubuh adalah substansi yang diperpanjang (hal)

(d)   Persoalan dapat diartikan tanpa referensi pikiran.

(e)    Pikiran dapat didefinisikan tanpa referensi persoalan

(f)    Persoalan dan akal adalah dua hal yang berbeda – Dualisme.

(i)         Pikiran secara diametrik berlawanan dengan tubuh. Bagian dari akal adalah pikiran: akal itu aktif dan bebas.

(ii)       Tubuh (hal) berbeda dengan akal. Bagian dari tubuh adalah ekstensi: tubuh itu pasif.

  1. PERKEMBANGAN FILSAFAT CARTESIAN
    1. Filsafat Cartesian memunculkan banyak masalah yang dapat berlanjut ke tahun-tahun berikutnya.
      1. Tuhan dan alam dinyatakan sebagai dua realita independen: Tuhan dan manusia, manusia dan sifat, pikiran dan tubuh, berbeda satu dengan lainnya.
      2. Kesulitan filsafat timbul dengan usaha untuk menyatukan hal yang tampaknya independen ini.
      3. Dulaisme dari sistem Cartesian dapat dihindari dengan cara:

(1)      Menerima idealisme mutlak dan menghilangkan sifat sebagai realitas independen (Malebranche).

(2)      Menerima matearialisme dan menghapus akal sebagai realita independen (Hobbes dan Materialis lainnya)

(3)      Membuat baik tubuh dan manifestasi  masalah dari substansi yang absolute (Tuhan atau alam – Spinoza). Membantah interaksi mereka (Doktrin Paralelisme)

  1. Kebanyakan Cartesian menolak teori interaksi. Tubuh dan pikiran adalah berbeda, begitu juga penyebab fisik yang menghasilkan akibat mental.
  2. Penerus Socrates
    1. Arnold Geulinex mengikuti filsafat Cartesian tapi membelok darinya dalam beberapa poin.
    2. Nicolas Malebfranche (1638 – 1715) seorang anggota Orotary Yesus dan seorang Cartesian yang rajin. Dia menawarkan:

(1)      Sebuah panteisme yang ideal, mempertahankan bahwa kita tidak boleh mengetahui apa-apa mengenai dunia luar secara langsung; kita tahu hal-hal eksternal saat hal itu muncul sebagai bentuk pemahaman kita tentang Tuhan, gagasan itu kemudian ditampilkan ke dalam akal saat petukaran kesan terjadi pada tubuh kita.

(2)      Melbranche memplatonasikan Descrates dan Menginterpretasikan Cartesianisme sebagai filsafat Kristen.

  1. Blaise Pascal (1623 – 1662) menerima dualism Cartesian dengan konsepsi mekanikalnya tentang alam – ruang, waktu, gerakan, jumlah, persoalan. Dia menggabungkan Mistisisme dengan skeptisime.
  2. Pierre Bayle (1647 – 1706) menggunakan Cartesianisme dalam filsafat dan teologikal, menunjukkan perlawanan antara ilmu pengetahuan dan agama, dan mempengaruhi Leibniz dan Hume. Bayle adalah seorang kritikus, skeptic, dan pembuka pertempuran filosofi.

BENNEDICT SPINOZA (1632 – 1677)

(Dunia ini adalah satu substansi disebut alam atau Tuhan)

  1. Kehidupan Spinoza
    1. Lahir di Amsterdam dari orangtua Yahudi-Portugis dan dibesarkan dalam kondisi yang baik.
    2. Mengejar pembelajaran teologikal (Sastra Hebrew) atas keinginan ayahnya tapi hanya menemukan sedikit kepuasan dalam teologi Yahudi.

(1)   Meninggalkan yudaisme dan dikucilkan dari keyakinan Yahudi.

(2)   Dipaksa meninggalkan Amsterdam, dia bermukim di Hague (1669) dan membiayai hidupnya dengan mengikir lensa.

  1. Palatine Elecktor, Karl Ludwig, menawarkan Spinoza menjadi guru besar filsafat di Heidelberg dengan syarat dia harus tetap menjadi orthodox.

(1)   Spinoza menolak karena dia lebih memilih untuk memberikan kebebasannya dalam kemandirian pemikiran.

(2)   Mayoritas karyanya tidak ditulis dibawah namanya karena denda besar yang diberikan untuk keaetisannya.

(3)   Masa jayanya berkarya adalah dari tahun 1660 sampai 1667.

  1. Karya Besar
    1. Dengan namanya sendiri: Cogitata metaphysica (1663) adalah sebuah eksposisi dari sistem Descartes yang sangat ia kagumi.
    2. Karya Posthumous: Ethics; Tractatus politicus; Tractatus de intellectus emendation, Letters.
    3. Spinoza menggabungkan poin Neoplatonik Renaissance yang kuat dengan Cartesianisme.
      1. Dia mengadapatasi metode geometrical Descrates – nilai kritikal dari ide yang berbeda dan jelas, dan mengaplikasikannya kedalam masalah substansi, hubungan antara akal dan tubuh, kebebasan manusia, Tuhan dan dunia.
      2. Asumsi fundamentalnya adalah dalil sebab-akibat: “Hal apapun yang tidak memiliki kesamaan, tidak bisa menjadi penyebab bagi hal lainnya.” (Hoffding)
      3. Dia menerima konsekuensi penuh atas Logika Cartesian yang membawanya pada Panteisme.

(1)   Merenungkan, dia mencoba untuk membuktikan penyatuan semua hal, bahwa yang memiliki batas adalah hanya sebuah mode dari yang tak terbatas, dan yang tak terbatas adalah realitas yang tertinggi.

(2)   Sebagai konsekuensi, Spinoza berargumen bahwa pikiran dan tubuh tidak bisa berinteraksi.

(3)   Pikiran adalah kumpulan ide, sebuah bentuk platonik. Mereka adalah kesempurnaan yang berbeda derajat. Mereka dekat dengan objek; disana lahir bukan hanya ide seorang saja tapi banyak orang. Selanjutnya, apa hubungan antara dua ranah pikiran ini dengan tubuh?

(4)   Spinoza percaya bahwa suksesi penyebab dari kejadian fisik paralel dengan suksesi logika ide.

(5)   Terjadinya suatu peristiwa tidak menciptakan gagasan kejadian tersebut, setiap peristiwa memiliki ide atau diekspresikan dalam ide.

(6)   Ide dan hal adalah bentuk pemikiran, dari persoalaan yang menjadi atribut dari satu  substansi – Tuhan atau alam, adalah hal yang bergantung dengan diri masing-masing.

(7)   Segalanya yang kurang utuh bergantung pada satu hal lainnya yang mana “semuanya” tidak terbatas. Spinoza menyebut properti ini “ketidakterbatasan”

  1. Doktrin Spinoza tentang substansi dan atribut
    1. Hanya ada satu substansi yang nyata – keseluruhan yang saling bergantung tapi memiliki atribut yang memungkinkan.

(1)   Sebuah substansi adalah realitas fundamental

(2)   Sebuah atribut adalah properti dan kualitas dari substansi

(a)    Sebuah atribut adalah esens dari substansi seperti yang diterima oleh intelek yang mana menurut metode Cartesian, terdiri dari atribut berpikir dan ekstensi.

(b)   Karena Tuhan adalah pemikiran dan substansi yang diperluas dan tidak terbatas.

(c)    Pikiran dan tubuh paralel, ide dan makhluk adalah identik dihadapan Tuhan (atau alam)

(d)   Perubahan yang berlangsung di alam dimanifestasikan saat ini sebagai ide, saat ini sebagai hal.

(e)    Manusia menjadi tubuh dan akal, seperti pada Neoplatonisme dan Scotus Erigena.

  1. Filsafat Espinoza penting dalam tiga aspek.
    1. Sebagai sistem Panteisme.
    2. Dalam aplikasi metode geometrikalnya dalam etik.
    3. Dalam pengenalan hipotesis identitasnya sebagai teori pengetahuan – objek adalah embodimen pemikiran. (jika kita mengetahui konsepsi ketuhanan tentang hal kita mengenalnya sebagai dirinya)

(1)   Tuhan itu satu (Makhluk yang suci) dan Tuhan adalah pemahaman (Aristoteles). Manusia mungkin bebas berpikir tentang keesaan tuhan yang mengasilkan intelektual cinta dan kesenangan.

(2)   Metode geometrical menyatakan bahwa etik sama bergantungnya pada hukum sama dengan hal fisik lainnya di dunia.

(a)    Di dalam Ethics, Spinoza memegang keyakinan bahwa keinginan dan intelek adalah hal yang sama. Sejauh ini saat tindakan kita timbul dari hasrat kita, maka kita adalah budak, dan selama mereka dihasilkan oleh kebijksanaan, maka kita bebas. Manusia ditentukan dari kekuatan yang ia miliki. Jika mereka melihtnya sama dengan cara pandang Tuhan, mereka akan bertindak sebagaiman Tuhan bertindak.

(b)   Spinoza, seperti Descrates, Malbrance, adalah seorang dogmatis alami.

  1. Kesimpulan Dari Sistem Spinoza
    1. Keabsolutan atau Tuhan adalah substansi yang memiliki dua atribut; (1) pemikiran, (2) ekstensi.
    2. Substansi didasarkan pada atributnya atau kemampuan intelek untuk menerima esensi pemikiran. Itu aktual dan selamanya.
    3. Atribut adalah esens dari substansi, esens Tuhan diterima oleh intelek yang mengekspresikan subtansi
    4. Mode adalah modifikasi dari substansi. substansi invidual adalah mode Tuhan. Tuhan dikenal melalui pemikiran yang murni.

Source: Hasil Terjemahan Bab VIII Buku “PHILOSOPHY An Outline – History”  John Edward Bentley, Th.D.

Untuk terjemahan Bab 5 Filsafat Abad Pertengahan, di sini

What Do You Think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s